Analisa Usaha Penggemukan Sapi PO per 10 Ekor

Silahkan share di:

Peluang usaha penggemukan sapi

Saya berani mengatakan selama manusia masih ada maka selama itu pula peluang usaha penggemukan sapi masih tetap tinggi.

Tidak perlu bukti data berupa angka-angka karena menurut saya itu tidak terlalu membantu.

Faktanya, apakah selama ini kita pernah mendengar kalau kebutuhan daging nasional sudah tercukupi oleh peternak lokal?

Belum pastinya.

Artinya, jumlah daging sapi yang dihasilkan oleh peternak lokal selama ini selalu kurang karena harus impor terus dari luar negeri.

Impor sapi itu tidak selalu salah. Kita bisa mengambil sisi positifnya.

Misalnya kebutuhan sapi dipaksakan harus dicukupi dari peternak lokal, artinya jumlah populasi ternak sapi lokal akan terkuras dengan cepat.

Akibatnya, kebutuhan akan daging sapi selanjutnya dipenuhi dari mana, kalau dari sapi lokal tidak ada stok yang pantas untuk dipotong.

Lagi – lagi harus impor lagi dengan jumlah besar – besaran. Ini akan membuat keadaan lebih parah.

Selain dari potensi kebutuhan pasar yang tinggi akan daging sapi, usaha penggemukan sapi ini juga menggiurkan dari segi bisnisnya.

Perputaran modal dalam usaha penggemukan sapi ini cukup singkat. Modal akan berputar sekitar 3 – 4 bulan.

Ini berbeda dengan model usaha pembibitan sapi yang perputaran modalnya lama yaitu sekitar 1 tahun.

Salah satu kriteria bisnis atau usaha yang bagus itu adalah perputaran modalnya cepat.

Tidak hanya di usaha penggemukan sapi, di usaha – usaha yang lain semakin cepat cashflownya maka semakin besar pula potensi keuntungannya.

Setelah itu, potensi dan peluang selanjutnya adalah usaha penggemukan sapi ini bukanlah bisnis yang sulit.

Artinya, penggemukan sapi sudah familiar di kalangan masyarakat. Sudah banyak yang melakukannya meskipun dengan skala usaha yang berbeda – beda.

Hal ini semakin memudahkan kita yang tertarik dengan usaha ini untuk bisa dengan mudah memperoleh informasi.

Kita bisa belajar cara usahanya dari banyak sumber. Bisa itu komunitas, pelaku usaha langsung atau literatur sumber bacaan, baik itu media cetak seperti buku atau dari internet.

Dan sumber itu sekarang jumlahnya sangat banyak dengan kemudahan jalan untuk mengaksesnya.

Pelajari & pahami dulu usaha penggemukan sapi

Memahami terlebih dahulu seluk beluk usaha ini itu perlu. Kenapa?

Penggemukan sapi itu adalah mengubah protein dan nutrisi lain dari pakan menjadi protein produk peternakan yang berupa daging.

Inilah inti dari usaha ini.

Kalau kita tidak bisa atau tidak mampu melakukannya, berarti kita gagal dalam menjalankan usaha ini.

Setelah itu, yang tidak kalah penting adalah bisa menjual produk ternak kita.

Seandainya kita punya sapi dan sudah kita rawat dan dikasih makan. Tetapi pertumbuhan badannya tidak naik – naik atau naik tapi cuma sedikit.

Maka ada yang kurang benar dalam proses berjalannya usaha kita.

Produk yang harus tercipta adalah bertambahnya daging dari sapi yang akan kita gemukkan.

Oleh karena itu kita perlu mempersiapkan modal materiil dan non materiil sebelum melakukan usaha penggemukan ini.

Persiapan usaha

Persiapan pertama yang harus ada adalah niat tentunya. Saya kira tidak perlu lah membahas panjang lebar mengenai niat ini.

Selanjutnya adalah persiapan materiil. Ini meliputi modal untuk menyediakan lahan, kandang dan bakalan.

Ini juga sudah banyak yang membahasnya dan saya kira Anda lebih tahu bagiamana cara mendapatkan modal ini.

Kita akan membahas persiapan usaha yang di luar itu semua. Namun, kebanyakan kita melupakan dan mengabaikannya.

Bakalan yang berkualitas

Saya punya pendapat sendiri tentang bakalan yang berkualitas. Karena faktanya, di lapangan bakalan yang berkualitas dan tidak berkualitas campur aduk jadi satu.

Kalau semua orang hanya mengambil bakalan yang berkualitas, terus yang tidak berkualitas bagaimana nasibnya?

Menurut saya kalau untuk penggemukan, pasti memilih bakalan yang kurus karena mau digemukkan.

Pasti sulit kalau mencari yang kondisinya ideal, karena sapi bisa kurus pasti karena selama pertumbuhannya berada dalam kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Yang penting, ciri – ciri yang saya yakini adalah:

  • Sapi tidak cacat fisik parah.
  • Ukuran panjang, lingkar dada dan tinggi pundak proporsional atau seimbang.
  • Tidak dalam kondisi sakit.
  • Kotoran normal karena masalah kotoran berhubungan dengan pencernaan. Kalau pencernaan bagus nanti penyerapan nutrisi pakan juga bagus.

Yang tidak kalah pentingnya adalah faktor yang mempengaruhi perkembangan bakalan yang aka kita gunakan nantinya yaitu:

Usia bakalan.

Pertumbuhan bobot badan harian dan,

Lama penggemukan.

Usia bakalan

Sapi memiliki usia yang optimal untuk dijadikan usaha penggemukan. Usia ini adalah usia terbaik untuk mendapatkan pertambahan badan yang maksimal.

Berapakah usianya?

Usia yang ideal bakalan sapi untuk penggemukan adalah 2 – 3 tahun.[1]

Kurang dari dua tahun, pertambahan bobot badan sapi agak lambat sedangkan usia lebih dari 3 tahun pertambahan bobotnya sudah lambat.

Cara mengetahuinya usia bakalan sapi bagaimana?

Cara pertama adalah bertanya langsung kepada penjualnya. Tapi nanti jawaban yang diperoleh kemungkinan besar kurang objektif.

Cara yang objektif adalah bertanya langsung kepada sapinya. “Hei sapi usiamu berapa?”

Kalau nanti sapinya jawab, dijamin Anda pasti langsung kabur. Hehe…

Tidak, tidak seperti itu maksud saya. Cara objektif yang saya maksudkan adalah dengan memeriksa jumlah gigi pada sapi.

Berikut ini adalah caranya:

  • Jumlah gigi seri masih utuh berarti usianya di bawah 2 tahun.
  • Terdapat 1 – 2 pasang gigi tetap berarti usia antara 2 – 3 tahun.

Informasi mengenai menentukan usia sapi dari giginya sudah banyak yang membahasnya. Salah satunya Anda bisa melihat di

http://www.sapibagus.com/2016/12/25/empat-cara-mengetahui-umur-ternak-sapi/.

Di situ dibahas cukup lengkap dan detail mengenai gigi sapi. Ada gambarnya juga.

Pertambuhan bobot badah harian

Setiap bangsa sapi memiliki kemampuan pertambahan bobot badan yang berbeda – beda.

Hal ini dipengaruhi oleh jenis dan bangsa sapi itu sendiri.

Sapi PO, Sapi bali, Sapi Madura, Limosin dan Simental atau brahma misalnya, masing – masing memiliki karakter pertambahan bobot badan yang berbeda.

Sapi limosin dan simental pertambahan bobot badannya bisa sampai 1 kg per hari dengan pakan yang berkualitas baik.

Berbeda halnya dengan sapi PO, yang maksimal pertambahan bobot hariannya sekitar 0,5 kg per hari.

Ini bukan dipengaruhi oleh manajemen atau kualitas pakan. Memang karakter genetik dari si sapi itu seperti itu.

Saya memperoleh data tentang pertambahan bobot harian dari beberapa bangsa sapi.

Data ini bersumber dari laporan magang salah Mahasiswa Universitas Surakarta[2].

Berikut adalah data pertambahan bobot badan sapi menurut jenis bangsanya.

Tabel ini perlu saya jelaskan biar lebih punya gambaran.

Total populasi sapi semuanya berjumlah 106 ekor.

Sapi simental

Untuk jenis sapi simental, semuanya jantan.

Kita bisa lihat data di atas, pertambahan bobot badan hariannya bervariasi antara 0,3 – 1,17 kg/ekor/hari.

Dari 64 ekor sapi simental, hanya 7 ekor sapi yang pertambahan berat badannya di atas 1 kg/ekor/hari.

Sedangkan sapi simental yang pertumbuhannya dibawah 0,5 kg per hari, ada sebanyak 17 ekor.

Sisanya, pertumbuhan badannya bervariasi mulai 0,5.. – 0,9.. kg/ekor/hari.

Dari data tersebut kita bisa lihat bahwa sangat sulit untuk mendapatkan pertambahan bobot harian yang seragam.

Ini menunjukkan bahwa memastikan bakalan dengan kualitas yang sama sangat sulit. Apalagi jumlahnya banyak.

Kalau jumlahnya sedikit, menyeleksi bakalan yang kualitasnya hampir sama masih cukup mudah.

Sapi limousin

Dari pupulasi sebanyak 16 ekor, terdiri dari 11 ekor jantan dan 5 ekor betina.

Jumlah sapi limosin yang pbbh nya di bawah 0,5 kg/ekor/hari ada 5 ekor.

Kurang bisa dipastikan apakah kelima – limanya yang betina atau ada jantannya sebagian.

Karena memang sapi betina pbbh nya lebih rendah daripada sapi yang jantan.

Sapi PO

Sapi PO yang dipelihara semuanya jantan.

Dari total populasi sapi PO, hanya 2 ekor yang pertambahan bobot badan hariannya di bawah 0,4 kg/ekor/hari.

Sapi PFH

Sapi PFH semuanya jantan dan hanya 1 ekor yang pertambahan bobot hariannya di bawah 0,5 kg/ekor/hari.

Jangan terjebak teori ideal

Teori ideal itu memberikan data berdasarkan performa terbaik atau terburuk dari suatu hewan ternak.

Misalnya sapi simental. Secara teori, bangsa sapi ini bisa memiliki pertambahan bobot badan harian sebanyak 1 kg/ekor/hari.

Kalau kita berpatokan pada nilai ini, maka blunder ini namanya.

Faktanya, pbbh dari sapi simental dan sapi – sapi yang lain bervariasi nilainya.

Sebaiknya kita ambil nilai terburuk sebelum menyusun suatu rencana bisnis. Bisnis apapun itu.

Lalu, sapi bangsa apa yang harus kita gemukkan?

Ada dua poin yang harus saya soroti untuk menentukan sapi mana yang harus kita gemukkan.

  1. Semua bangsa atau jenis sapi sama bagusnya.
  2. Kondisi iklim atau lokasi usaha penggemukan sapi.

No. 1. Semua bangsa sapi sama bagusnya

Apakah sapi simental yang bisa menghasilkan 1 kg daging per hari lebih bagus dari jenis sapi yang lain?

Belum tentu.

Memang kemampuannya untuk mengubah pakan menjadi daging lebih baik, tapi kalau dipikir lebih dalam, perbedaannya tidaklah begitu signifikan.

Semakin besar tubuh bakalan, maka semakin banyak pula pakan dan konsentrat yang diperlukan.

Dan semakin kecil tubuh bakalan sapi, jumlah kebutuhan pakan dan konsentrat juga lebih sedikit.

Simental bisa menghasilkan daging lebih banyak tetapi biaya pakan juga lebih besar karena pakan dan konsentratnya banyak.

No 2. Kondisi iklim atau lokasi usaha penggemukan sapi

Tidak semua jenis sapi bisa tumbuh baik di segala lingkungan.

Ada jenis sapi bisa tumbuh baik di daerah tropis atau dataran rendah.

Akan tetapi ada yang pertumbuhannya akan sangat baik kalau dipelihara di dataran tinggi.

Nanti akan saya berikan beberapa karakter sapi berdasarkan lokasi pemeliharaannya[1].

Sapi Bali

Sapi bali merupakan sapi asli Indonesia, jadi cocok untuk daerah tropis. Ia bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah di bawah 100 mdpl.

Populasinya cukup banyak di Indonesia jadi ketersediaannya tidak sulit untuk ditemukan.

Selain itu sapi bali cukup jinak.

Ia juga mampu hidup dalam kondisi lingkungan kurang baik.

Efisien dalam memanfaatkan sumber pakan, persentase karkas tinggi dan dagingnya rendah lemak.

Jumlah karkas nya berkisar 56-57 %.

Akan tetapi sapi bali ini rentan dengan penyakit jembrana. Ini artikelnya.

Sapi bali paling rentan dengan penyakit jembrana.

Sapi Ongole

Sapi ongole tahan terhadap cuaca panas.

Ia juga punya ketahan yang cukup baik terhadap serangga seperti lalat dan cablak.

Sapi ongole juga tahan terhadap serangan penyakit.

Kualitas karkas mencapai 45 – 58 %.

Sapi Brahman

Sapi brahman ini merupakan sapi persilangan yang dipersiapkan untuk tahan terhadap cuaca di daerah tropis.

Populasinya cukup tinggi di Indonesia.

Ia juga tahan terhadap serangga dan penyakit serta resisten terhadap demam texas, gigitan caplak, dan nyamuk.

Pertumbuhan setelah sapih cukup baik dan ia termasuk jenis pedaging.

Tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan dan presentase karkas yang dihasilkan sekitar 48,6-54,2%.

Sapi Simmental

Kalau sapi simental lebih sesuai kalau di pelihari di daerah yang dingin atau sejuk. Di dataran rendah performanya kurang maksimal.

Sapi simental sangat bagus untuk usaha penggemukan sapi.

Kelebihan lainnya adalah pertumbuhan ototnya bagus dan lemak bawah kulit sedikit.

Selain itu ia juga cukup jinak untuk dipelihara.

Sapi Limousin

Sapi limousin karakternya hampir sama dengan sapi simental yaitu lebih cocok dipelihara di daerah sejuk.

Penampilan fisiknya kekar dan berotot dengan lingkar dada yang besar.

Sapi jenis ini merupakan tipe pedaging dan karkasnya sangat berkualitas.

Sapi Freisian holstein

Bangsa sapi ini termasuk moderat karena ia dapat hidup di daerah tropis dan subtropis.

Pertumbuhannya juga cukup cepat dengan persentase karkas baik.

Kemampuan hidup saat usia pedet baik dan populasinya tinggi.

Selain itu juga mudah menyesuaikan dengan pakan seadanya.

Ia jinak dan dan yang jantan sangat cocok untuk digemukkan.

Analisa usaha penggemukan sapi

Setiap kali kita akan menganalisa suatu usaha kita pasti akan menghitung terlebih dahulu tentang biaya produksi, pemasukan baru kemudian mengkalkulasi untung ruginya.

Hal yang sama juga akan kita lakukan pada analisa usaha penggemukan sapi ini.

Tapi sebelum itu, karena ini hanya sebuah analisa maka harus saya tetapkan telebih dahulu asumsi-asumsi yang ada di usaha ini.

  • Jenis bakalan sapi yang akan di gemukkan adalah sapi PO dan jumlahnya 10 ekor.
  • Lama periode penggemukan adalah 3 bulan atau 90 hari.
  • Pertambahan bobot badan harian (pbbh) dari sapi PO saya anggap rata – rata sebanyak 0,5 kg/hari/ekor.
  • Bobot awal bakalan sekitar 200 kg.
  • Lahan dan lokasi usaha adalah milik sendiri.
  • Transportasi untuk mengangkut pakan entah itu mobil atau semacamnya sudah tersedia.

Biaya investasi usaha penggemukan sapi

Untuk biaya investasi awal bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Biaya Operasional

Keterangan:

Jerami

Pakan yang diberikan berupa jerami sebanyak 10% dari berat badan sapi. Jika bobot awal sapi seberat 200 kg, maka jerami per hari butuh sebanyak 20 kg.

Tetapi setiap hari sapi bobotnya bertambah. Kita kembalikan ke asumsi awal kita.

Yaitu sapi bobotnya rata – rata bertambah 0,5 kg setiap harinya. Jadi bobot akhir yang direncanakan adalah 245 kg tiap sapinya.

Supaya aman, saya lebihkan pemberian jeraminya menjadi 15 % dari bobot badan sapi yaitu sebanyak 15 kg jerami.

Jumlah jerami yang diperlukan selama 90 hari adalah 15 kg x 10 ekor x 90 hari = 13.500 kg atau 13.5 ton.

Harga untuk jeraminya per kg nya saya buat Rp. 200,-. Jadi total biayanya adalah sebanyak Rp. 2.700.000,-

Konsentrat

Pemberian pakan konsentrat diberikan sebanyak 1 – 2 % dari bobot badan. Saya ambil nilai terbanyaknya sebanyak 2 % saja.

Seperti pada pemberian jerami, saya menghitungnya dari asumsi bobot akhir sapi yang diinginkan yaitu 245 kg.

Jadi konsentrat diberikan tiap harinya sebanyak 2% x 245 kg = 4,9 kg.

Jumlah konsentrat yang diberikan selama 90 hari untuk 10 ekor sapi adalah sebanyak 4,9 kg x 10 ekor x 90 hari = 4410 kg.

Saya anggap konsentrat diperoleh dengan cara membeli yang sudah jadi dengan asumsi harga per kg nya adalah Rp. 2000.

Kalau cara membuat konsentrat sendiri, akan saya bahas di artikel yang lain.

Gaji Karyawan

Dalam analisa usaha penggemukan sapi ini saya menggunakan dua orang karyawan. Masing – masing digaji 500 ribu setiap bulannya.

Pendapatan

Pendapatan utama dari usaha penggemukan sapi ini adalah pertambahan bobot badan harian sapi.

Kembali ke asumsi awal kita.

Jika asumsi kita benar, maka kita bisa menghitung jumlah pertambahan bobot badan total selama pemeliharaan 90 hari.

Sukur – sukur kalau fakta yang akan kita dapatkan di lapangan melebihi dari asumsi kita.

Setengah kilo (0,5 kg) setiap hari dari 10 ekor sapi selama 90 hari totalnya adalah 0,5 x 10 x 90 = 450 kg.

Asumsi seperti ini penjualannya nanti harus dengan sistem timbang hidup.

Harga untuk sistem timbang hidup dapat dilihat di artikel ini

https://kambingjoynim.com/harga-produk-peternakan-terbaru/.

Dari web dinas peternakan jawa tengah harga timbang hidup sapi bervariasi antara 40 sampai 55 ribu rupiah per kg nya.

Saya buat tengah – tengah misalnya harga jual timbang hidup adalah 45 ribu rupiah per kg nya.

Sekarang kita hitung pendapatan kita.

450 kg x Rp. 45.000,- = 20.250.000

Kemudian kita kurangi dengan biaya pakan (jerami), konsentrat, gaji, obat dan vitamin serta listrik dan air yang jumlahnya Rp. 15. 620.000,-

Jadi, pendapatan bersih kita setiap bulannya adalah sebanyak:

Rp. 20.250.000 – Rp. 15. 620.000 = Rp. 4.630.000,-

Kira – kira sebanyak itulah pendapatan kita setiap tiga bulannya.

Ini belum termasuk penjualan kotoran sapi apabila kita ingin berniat untuk mengolah dan menjualnya.

Sebenarnya pendapatan masih bisa dimaksimalkan.

Mungkin harga jerami yang saya gunakan terlalu mahal, jika punya transportasi sendiri bisa jadi harga yang diperoleh jauh lebih murah.

Selain itu jika dirasa belum perlu menggunakan karyawan akan lebih bisa menghemat pengeluaran.

Referensi

[1] Arya P., Yoga. 2013. Analisis Kelayakan Usaha Penggemukan Sapi Potong Pada Peternakan Bapak Sarno Desa Citapen Ciawi Kabupaten Bogor. Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

[2] Didy, Alfianus D. 2009. Manajemen Penggemukan Sapi Potong di CV. Sumber Baja Perkasa Kabupaten Klaten. Program Diploma III Agribisnis Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar