Bungkil Biji Jarak Pagar Untuk Pakan Ternak Puyuh??? Lihat ini Dulu

Silahkan share di:

Pasti tidak asing kan dengan tanaman yang satu ini. Iya, ini adalah tanaman jarak.

Dulu di tempat saya setiap pagar ladang dan kebun pagarnya adalah tanaman ini. Tapi kini sudah tidak ada lagi kerena diganti dengan tanaman yang lain.

Mungkin karena kurang tahu manfaatnya, selain sebagai pagar, jadi tanaman ini ditebangi. Lagipula penanamannya juga dulu karena dipaksa.

Di paksa oleh Jepang, seperti itu sejarahnya.

Akan tetapi dewasa ini, tanaman jarak sudah cukup banyak yang memanfaatkannya. Diantaranya diambil minyaknya.

Hal ini karena kandungan minyaknya cukup tinggi. Yaitu sekitar 30 % dari biji keringnya.

Pengambilan minyak dari biji jarak pagar ini membutuhkan proses yang cukup panjang.

Hasil sampingannya adalah berupa bungkil jarak.

Yang akan saya bahas di artikel ini adalah bungkilnya.

Kenapa? Seperti ini alasannya.

Kalau lokasi Anda dekat dekat dengan pengolahan biji jarak untuk membuat biodisel, maka hasil samping berupa bungkilnya jumlahnya cukup banyak.

Kalau ternyata lokasi Anda jauh, anggap saja artikel ini sebagai informasi saja.

Kandungan nutrisi bungkil jarak pagar

Bungkil jarak pagar memilki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Seandainya ini bisa dijadikan sebagai pakan ternak, maka akan sangat menguntungkan sekali.

Menurut penelitian, kandungan bungkil jarak pagar adalah sebagai berikut.[1]

Nilai nutrisi bungkil jarak pagar di atas adalah dalam keadaan segar. Kalau dalam berat kering, nilainya akan lebih besar lagi.

Untuk angka setelah tanda ± adalah nilai simpangan. Maksudnya seperti ini.

Saya ambil contoh untuk yang protein kasar. Di gambar di atas nilainya adalah 24,6 ± 1,4.

Ini artinya nilai protein kasar berkisar antara (24,6 – 1,4 = 23,2) dan (24,6 + 1,4 = 26 ).

Begitu pula dengan kandungan nutrisi yang lain.

Lumayan kan nilai kandungan nutrisi dari bungkil jarak pagar ini?

Tidak hanya kandungan nutrisinya yang cukup tinggi, akan tetapi protein kasar dari bungkil jarak pagar ini juga memiliki susunan asam amino yang cukup lengkap.

Ini adalah komposisi asam amino dari bungkil jarak pagar.[2]

Dari tadi jarak pagar terus yang dibahas. Sebenarnya ada jenis jarak yang lain dan kandungan nutrisi bungkilnya jauh lebih tinggi.

Jarak kastor namanya.

Buahnya seperti rambutan. Bagian kulit buahnya ada rambutnya. Ini gambarnya.

Kandungan nutrisi dari jarak kastor ini adalah sebagai berikut.[3]

Apakah bungkil jarak pagar ini bisa untuk Pakan?

Secara teori, bungkil jarak pagar ini bisa untuk pakan. Lihatlah kandungan nutrisi dan komposisi asam aminonya.

Secara teori hal itu sangat bisa sekali.

Akan tetapi ada kelemahan dari bungkil jarak pagar ini.

Apa saja itu? Ini dia.

Pertama. Bungkil jarak ini sulit didapatkan. Hanya ada di wilayah tertentu saja. Terutama yang ada pengolahan minyak biji jarak.

Kedua. Biji jarak tidak bisa diberikan ke ternak secara langsung. Baik ternak ruminansia atau ungas, jangan. Berbahaya! Hal ini karena jarak pagar mengandung senyawa yang bersifat racun. Nanti dijelaskan.

Ketiga. Meskipun sudah dalam bentuk bungkilnya, tetap bahan pakan ini mengandung antinutrisi yang merugikan.

Antinutrisi yang ada pada bungkil biji jarak pagar ini bisa menurunkan produksi dan kualitas hasil ternak.

Keempat. Pemprosesan dari biji jarak menjadi bungkil yang aman membutuhkan proses yang cukup panjang. Ini akan membutuhkan investasi yang cukup besar. Jadi kurang efisien kalau dari segi bisnis.

Kecuali, bungkil jarak pagar ini bisa didapatkan secara cuma – cuma. Atau, ada yang menjualnya sudah diproses dan aman untuk ternak.

Anti Nutrisi bungkil jarak

Zat anti nutrisi utama pada bungkil jarak adalah curcin dan phorbolester. Kedua zat ini bukan hanya anti nutrisi, tapi keduanya adalah racun.

Jika termakan oleh ternak, bisa langsung mati dalam waktu sebentar saja.

Jumlah phorbolester dalam bungkil jarak pagar ini adalah sebanyak 24 mikrogram untuk setiap gram bungkil jarak pagar.

Kalau curcin, jumlahnya 0,09% dari bungkilnya.

Jumlah racun sebanyak ini, jelas, hewan bisa langsung tewas dalam waktu singkat kalau diberi bungkil jarak pagar dalam kondisi segar.

Phorbolester ini menyebabkan terjadinya tumor. Selain itu zat ini memiliki sifat karsinogen, pencahar, dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mabuk, muntah, serta diare.

Berbeda dengan phorbolester, curcin lebih bersifat merugikan pada sistem pencernaan.

Curcin dapat menghambat penyerapan nutrisi secara menyeluruh. Tidak hanya penyerapan protein, peyerapan karbohidrat, lemak dan serat akan mengalami gangguan juga.

Dengan begitu, hewan ternak akan mengalami kekurangan nutrisi secara drastis.

Sayang sekali, kandungan anti nutrisi pada bungkil jarak ini sangat berbahaya. Padahal, kalau tidak ada itu semua, kandungan nutrisinya sangat bagus sekali.

Lalu, apakah anti nutrisi ini tidak bisa dihilangkan?

Pada dasarnya bisa. Tapi metodenya cukup rumit dan membutuhkan keterampilan yang lebih tinggi.

Ada tiga metode yang bisa digunakan untuk menghilangkan antinutrisi bungkil jarak ini. Metodenya adalah metode fisik, kimia dan biologi.

Bisa juga, cara untuk menghilangkan anti nutrisi dari bungkil jarak pagar adalah kombinasi dari ketiganya.

Cara pertama adalah dengan memanaskan bungkil jarak pada suhu 120 0C selama 30 menit. Kemudian bungkil dicuci dengan methanol 92% sebanyak 5 kali.

Saya masih belum dapat informasinya apakah setelah dilakukan treatmen ini bungkil menjadi aman untuk pakan ternak atau tidak. Karena bahan yang digunakan adalah methanol.

Tapi menurut sebuah jurnal publikasi ilmiah, dengan cara ini nilai phorbolester dari bungkil jarak pagar bisa berkurang sampai 94,94%.[2]

(Kate njajal a?)

Kalau dengan cara di atas, maka kita perlu banyak modal. Minimal kita punya oven. Ovennya juga harus besar.

Kalau kecil, sepertinya malah membuat biaya produksi lebih tinggi.

Alternatif lain adalah dengan cara biologis. Cara ini lebih kita kenal dengan fermentasi.

Menghilangkan anti nutrisi dari bungkil jarak dengan fermentasi memang lebih mudah dan murah untuk dilakukan.

Akan tetapi hasilnya masih lebih bagus dengan cara fisik dan kimiawi.

Fermentasi bungkil jarak dengan ragi tempe

Fermentasi ini adalah langkah yang dilakukan untuk uji coba bungkil biji jarak terhadap burung puyuh.

Bakteri yang digunakan adalah rhizopus oligosporus. Bakteri ini biasanya digunakan untuk membuat tempe. Makanya, di sub judul saya menyebutnya sebagai ragi tempe.

Cara fermentasinya adalah sebagai berikut.

Siapkan bungkil biji jarak pagarnya. Bukan bijinya, tapi bungkilnya. Biji yang digiling dan bungkil itu berbeda. Kalau bungkil itu kandungan minyaknya sebagian besar sudah diambil.

Jumlah bungkilnya sesuai kemampuan kita untuk mendapatkannya. Boleh 1 kg, 10 kg dan seterusnya.

Kemudian, bungkil jarak ditambah dengan air sampai kadarnya 60%. Cara mudah untuk mengetahuinya adalah saat bungkil dikepal tidak mengocorkan air, tapi kalau tangan dibuka, bungkil tidak menyebar (ambyar).

Setelah itu kukus bungkil tersebut selama 1 jam. Setelah selesai, angkat dan dinginkan sampai suhu ruang.

Langkah selanjutnya adalah mencampur bungkil dengan starter fermentasi. Setiap1 kg bungkil jarak, ditambah 7 gram bakteri rhizopus oligosporus.

Kemudian taruh dalam nampan dan tutup dengan plastik. Plastiknya dilubangi kecil – kecil. Di atas platik ditutup lagi dengan bahan yang tidak tembus cahaya, misalnya koran.

Diamkan selama 2 hari.

Setelah itu, keringkan bungkil pada suhu 60 0C selama 24 jam.

Bungkil jarak fermentasi untuk pakan puyuh

Belum banyak yang melakukan penelitian tentang bungkil jarak untuk pakan puyuh ini.

Kalau menurut saya sih ini karena barangnya sulit diperoleh. Keberadaannya tidak merata di wilayah Indonesia.

Lagipula bungkil ini bukanlah limbah industri yang urgen harus bisa dimanfaatkan.

Selain itu, kandungan antinutrisi yang cukup berbahaya dan untuk menghilangkannya, caranya tidak mudah.

Dari sebuah penelitian yang pernah dilakukan, menggunakan bungkil biji jarak sebanyak 3% dalam pakan puyuh sudah menunjukkan adanya penurunan kualitas telur.[2]

Hasil yang lebih buruk lagi pada penggunaan bungkil biji jarak kastor sebagai pakan puyuh.

Jumlah bungkil jarak kastor sebanyak 1,5 – 4,5 % dalam pakan menyebabkan performa puyuh menurun.[3]

Mulai dari konsumsi ransum, konsumsi minum, produksi telur dan berat telur mengalami penurunan. Semakin banyak jumlah bungkil jaraknya, semakin besar penurunannya.

Jadi, saya tidak memberikan informasi hasil penelitiannya secara lengkap, karena hasilnya kurang bagus.

Nanti malah bikin tidak semangat.

Kesimpulan

# . Tidak usah menggunakan bungkil jarak pagar atau kastor untuk pakan ternak. Kecuali Anda punya usaha pengolahan biji jarak dan punya banyak limbah bungkil jarak ini.

Jadi untuk menghemat biaya produksi, Anda bisa mengolahnya supaya bisa termanfaatkan.

# . Untuk bisa benar – benar memanfaatkan bungkil jarak ini, membutuhkan investasi yang cukup banyak.

Setidaknya kita punya data analisa laborat mengenai jumlah anti nutrisi dari bungkil jarak yang kita olah.

Referensi

[1] Khalim, Ismail Rahmad. 2012. Efek Pemberian Bungkil Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L. ) Difermentasi Rhizopus Oligosporus Terhadap Kualitas Telur Puyuh. Depertemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

[2] Santosa, Fitri Agustini. 2012. Folikel Kunint Telur dan Organ Dalam Puyuh Yang Diberi Bungkil Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Difermentasi Rhizopus oligosporus. Depertemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

[3] Ningtyas, Verry Nugraha. 2007. Pengaruh Substitusi Bungkil Kedelai Dengan Bungkil Biji Jarak Kastor ( ricinus communis linn) Terhadap Performa Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Periode Bertelur. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB Bogor.

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar