Jerami Fermentasi untuk Kambing Etawa, Bagaimana Hasilnya?

Silahkan share di:

Mencari cara untuk membuat fermentasi jerami padi? Kemudian jerami fermentasi tersebut digunakan sebagai pakan kambing atau domba.

Inginnya ada yang sudah melakukannya dan hasilnya luar biasa? Kambing bisa sangat gemuk dan sehat?

Dengan demikian biaya pakan bisa menjadi sangat murah dan bisa untung besar?

Kalau benar seperti itu, maka kita berharap terlalu tinggi.

Karena kenyatannya, jerami padi tidak bisa mewujudkan semua keinginan tersebut.

Ketahuilah bahwa jerami itu sebagai sumber serat, kalau untuk pakan ternak. Kandungan serat kasarnya sangat tinggi dan protein kasarnya sangat rendah.

Kalaupun ada yang bilang jerami padi bisa bikin kambing dan domba gemuk, itu karena jerami padi dicampur dengan bahan pakan lain yang nutrisinya sangat bagus.

Misalnya, konsentrat, ampas tahu, rumput – rumputan dan seterusnya.

Jadi, kebutuhan akan nutrisi dari kambing dan domba bukan diambil dari jerami padi. Melainkan sebagian besar diambil dari bahan pakan yang bermutu tadi.

Jenis pakan seperti itu sudah banyak yang menggunakannya untuk penggemukan sapi. Pakannya adalah konsentrat dan jerami padi.

Jerami padinya juga tidak perlu difermentasi. Tapi memberi pakan seperti ini tidak diberikan dalam waktu lama.

Akan tetapi, saya tidak ingin membuat Anda kecewa. Karena kalau Anda membaca artikel ini pasti ingin menemukan informasi tentang jerami padi fermentasi. Dan, jerami padi tersebut digunakan untuk pakan kambing atau domba.

Saya juga sangat setuju kalau jerami padi itu bisa termanfaatkan. Karena jumlahnya sangat melimpah.

Tetapi caranya harus dengan cara yang benar dengan informasi yang benar juga.

Bahkan ilmu sulap atau sihir pun tidak ada yang mampu mengubah jerami padi menjadi seperti rumput raja, rumput odot atau bahkan menjadi seperti legum.

Pengertian fermentasi jerami

Fermentasi jerami adalah memeram jerami dengan menambah bakteri selama beberapa hari untuk memperbaiki kualitasnya.

Ini adalah rekayasa biologi. Karena menggunakan organisme hidup untuk sedikit mengubah susunan molekul materi lain.

Bakteri yang digunakan bisa bermacam – macam. Bisa EM4, Starbio, MOL, ragi tape, ragi roti, rumen sapi dan masih banyak yang lainnya.

Kadang saat membuat fermentasi ditambahkan bahan lain berupa dedak padi, gula pasir dan molases atau tetes tebu.

Tujuannya sebagai sumber makanan untuk bakteri tersebut supaya kinerjanya maksimal.

Setelah difermentasi, jerami padi akan mengalami perubahan kandungan nutrisi. Terutama pada serat kasar dan kecernaannya.

Serat kasarnya menjadi lebih rendah, karena saat proses fermentasi berlangsung bakteri membutuhkan energi. Dan energi ini diambil dari memecah ikatah molekul hidrokarbon (serat).

Protein dari jerami padi tidak banyak berubah. Meskipun biasanya nilainya meningkat, tapi itu bukan berasal dari jerami padi. Melainkan dari bakteri starternya.

Bakteri itu kalau dianggap sebagai makanan, maka ia adalah sumber protein. Bisa dikatakan sebagai protein tunggal.

Jadi, kalau mau proteinnya nambah banyak dibanyakin aja starternya. (Hee….)

Kandungan jerami padi

Kandungan nutrisi dari jerami padi sangat rendah. Nilai kandungan nutrisinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.[1]

Seperti itu kandungan nutrisi dari jerami padi. Kalau mau dibuat sebagai pakan tunggal jelas tidak mungkin.

Seandainya dibuat sebagai pakan dasar, harus ditambah dengan bahan lain yang kualitasnya lebih bagus.

Cara membuat fermentasi jerami dengan Probion

Probion ini adalah salah satu jenis probiotik atau bakteri fermentasi. Probion ini ditemukan oleh Budi Haryanto dari balai penelitian ternak dan sudah dipatenkan.[2]

Sebagian besar probion ini terbuat dari rumen sapi akan tetapi ada penambahan bahan seperti mineral.

Probion ini dikemas dalam bentuk serbuk dan diklaim bisa meningkatkan kandungan nutrisi jerami padi.

Untuk mendapatkan produk ini dengan merk yang sama, yaitu probion, sepertinya cukup sulit karena belum banyak tersebar di pasaran.

Tidak tahu kalau sudah ada yang kerjasama dan merknya diubah. Tapi intinya komposisi utama dari probion ini adalah bakteri dari rumen sapi.

Untuk membuat fermentasi jerami padi dengan probion ini takarannya adalah sebagai berikut.

1 ton jerami padi butuh 2,5 kg probion dan 2,5 kg urea. Kalau jeraminya 5 ton, maka probionnya butuh 12,5 kg dan ureanya juga 12,5 kg.

Meskipun jumlah ureanya terlihat banyak, yaitu 2,5 kg, tapi jumlahnya hanya 0,25 % dari jerami padi. Sangat sedikit.

Meskipun sedikit, tetap saja urea adalah bahan yang berbahaya dan beracun untuk ternak.

Langkah pembuatan fermentasinya adalah seperti ini.

1 . Lakukan pembuatan fermentasi jerami padi ini di tempat yang teduh. Terhindar dari sinar matahari dan hujan secara langsung. Hal ini karena sinar matahari dapat membunuh bakterinya.

2 . Supaya pencampuran antara probion, urea dan jerami padi bisa merata, pencampuran dibuat menjadi beberapa lapis.

3 . Lapisan pertama hamparkan jerami sampai ketinggian kira – kira 20 cm. Mengenai panjang dan lebarnya, menyesuaikan dengan lahan yang dimiliki.

Kemudian lapisan tersebut ditaburi dengan probion dan urea secara merata.

Jumlahnya diperkiran. Kira – kira, mau dibuat berapa lapis? Kalau 1 ton jerami dibuat menjadi 10 lapisan, maka tiap lapisan ditaburi probion 250 gram dan urea 250 gram.

4 . Ulangi langkah ke tiga di atas, sampai bahan jerami padinya habis.

5 . Setelah jerami tertumpuk semua, biarkan selama 3 minggu atau 21 hari.

6 . Setelah 3 minggu, jemur jerami padi sampai kering. Kandungan air sekitar 10 – 15 %. Setelah kering, simpan dan bisa dipakai.

( Siap – siap untuk menerima sindiran dan nyinyiran dari tetangga. ” Jerami padi dibiarkan di sawah aja kering sendiri, ngapain harus dikeringkan di rumah. Seperti kurang kerjaan aja.”)

Setelah ini apa? Bisa buat pakan kambing etawa, :).

Apa bisa? Ini bebera informasi penelitiannya.

Jerami fermentasi untuk pakan kambing etawa

Penelitian kali ini menggunakan pakan jerami padi yang di fermentasi. Cara fermentasinya sama seperti cara di atas.

Nanti ada tiga penelitian yang berbeda. Kebetulan ketiganya menggunakan pakan jarami padi fermentasi dan cara fermentasinya pun sama.

Langsung saja kita ke penelitian yang pertama.

Penelitian pertama

Penelitian ini menggunakan 18 ekor kambing peranakan etawa. Umurnya 5 – 6 bulan dengan berat badan antara 16 – 17 kg.

Ke 18 ekor kambing tersebut kemudian dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama diberi pakan jerami padi fermentasi utuh sebanyak 37,5 % dan konsentrat 62,5 %.

Kelompok ke dua pakannya sama seperti kelompok pertama, tapi jerami padinya digiling menjadi halus.

Kelompok ketiga, ransum pakannya berupa rumput raja 37,5% dan konsentrat 62,5%.

Konsentratnya terbuat dari bahan dedak padi, bungkil kedelai, Bungkil kelapa, polard, onggok, molases dan mineral.

Setelah dicampur dengan jerami padi, kandungan protein ransum menjadi 14 – 15 %.

Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu, dengan hasilnya adalah sebagai berikut.[3]

Hasilnya cukup mengejutkan.

Jerami padi yang digiling memberikan pertambahan bobot badan harian paling tinggi. Yaitu kalau dirata – rata, per hari tiap kambing bertambah bobotnya sebanyak 83,3 gram/ekor.

Ini mengalahkan kambing yang diberi makan dengan menu konsentrat dengan jumlah yang sama, tapi dengan tambahan rumput raja.

Nilai di atas adalah nilai rata – rata. Jadi, perkembangan kambing belum tentu sama. Karena kalau saya melihat data aslinya, nilai deviasi dari angkanya cukup besar.

Hal ini menunjukkan bahwa kambing ada berkembang pesat dan ada yang tidak. Atau dengan kata lain, perkembangannya tidak merata.

Tapi, secara keseluruhan, nilai perkembangannya dapat dilihat pada gambar di atas.

Penelitian ke-dua

Penelitian yang kedua ini hampir sama dengan yang pertama tadi. Karena yang melakukannya masih satu tim.

Akan tetapi tujuannya berbeda.

Kalau yang pertama, ingin mengetahui pengaruh jerami padi fermentasi untuk pertumbuhan anakan kambing etawa.

Sedangkan yang ke dua ini untuk mengetahui perkembangan pubertasnya.

Kambing yang diujicoba adalah kambing etawa jantan usia 4 – 5 bulan. Jumlahnya sebanyak 8 ekor. Lebih sedikit dari percobaan yang pertama.

Pakan yang digunakan adalah ransum komplit dengan kandungan protein kasar 11%. Ransum komplit ini terdiri atas jerami padi 35% dan dan konsentrat 65%.

Untuk kelompok pertama jerami padinya difermentasi. Cara fermentasinya sama dengan sub bab di atas.

Kelompok kedua, jerami padinya tidak difermentasi.

Sedangkan kelompok yang ketiga, ransum pakannya berupa rumput raja 35% dan konsentrat 65%.

Ujicoba pakan ini dilakukan selama 4 bulan. Kemudian diamati perkembangan dari kambing uji cobanya.

Hasilnya adalah seperti ini.[4]

Untuk hasil yang ini, lebih baik kita fokus pada dua poin terakhir, yaitu diameter testis dan lingkar skrotum.

Anakan kambing etawa yang diberi makan hijauan dan konsentrat, diameter testis dan lingkar skrotumnya paling besar. Meskipun, untuk urusan pertambahan bobotnya paling sedikit.

Dengan demikian, kalau anakan kambing etawa mau digunakan sebagai pemacek, sebaiknya jangan diberi pakan fermentasi sejak kecil. Melainkan lebih baik pakannya yang alami saja.

Penelitian ke-tiga

Penelitian yang ke tiga ini tidak diujicobakan pada anakan kambing etawa, melainkan pada indukannya.

Jumlah kambing etawa yang diucicoba adalah sebanyak 24 ekor. Umurnya antara 1 – 3 tahun. Bobotnya rata – rata 35 kg.

Percobaan ini berlangsung cukup lama. Yaitu hampir 9 bulan. Karena harus menunggu waktu birahi, bunting dan masa sapih cempe. Cempe disapih sampai usia 3 bulan.

Ke 24 kambing etawa betina tersebut dikelompokkan menjadi 3 kelompok.

Kelompok pertama, pakannya adalah 35% jerami fermentasi yang dipotong dan 65% konsentrat.

Untuk kelompok kedua, pakannya adalah 35% jerami fermentasi yang digiling dan 65% konsentrat.

Sedangkan untuk kelompok ketiga, pakannya adalah rumput gajah sebanyak 35% dan konsentrat 65%.

Ketiga jenis ransum tersebut memiliki kandungan protein kasar yang hampir sama, yaitu sekitar 10%.

Singkatnya, hasil dari penelitian yang ketiga ini bisa dilihat pada gambar di bawah ini.[5]

Untuk ketiga pakan ini, kualitasnya hampir sama. Konsumsi hariannya juga hampir sama.

Jadi, untuk palatabilitas dan nutrisi yang diperoleh oleh kambing etawa tidak ada masalah.

Jumlah anak sekelahiran ramsum hijauan rumput gajah nilainya sedikit lebih tinggi. Ini artinya pakan dengan hijauan berpotensi untuk lebih besar untuk menghasilkan anakan lebih dari satu.

Kemudian kita lihat pada berat lahir anak jantan dan betina.

Pakan yang ada jerami fermentasinya, perbedaan antara berat anak jantan dan betina lebih besar. Sedangkan pakan hijauan beratnya hampir sama.

Sebelum anda pergi, tolong baca kesimpulan di bawah ini.

Kesimpulan

# Fermentasi dengan cara di atas salah satu bahannya menggunakan material yang berbahaya bagi ternak. Kalau penggunaannya tidak tepat, bisa berakibat fatal.

Hal ini karena urea bersifat racun kalau tertelan atau termakan oleh ternak.

Oleh karena itu, kalau berniat untuk melakukan fermentasi jerami padi dengan cara di atas, sebaiknya dipertimbangkan lagi.

Kalau memang tidak begitu yakin, sebaiknya hindari menggunakan urea.

Atau sebelum membuatnya konsultasikan ke mantri atau peternak yang sudah berpengalaman di bidang ini.

# Fermentasi jerami padi dengan urea memberikan hasil jerami padi yang lebih baik. Itu menurut penelitian ini.

Akan tetapi untuk penggunaan jangka panjang, sebaiknya perlu dipikirkan lebih matang lagi.

Ok, semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa sedikit memberi gambaran tentang fermentasi jerami padi.

Sampai jumpa lagi minggu depan.

Referensi

[1] Alwi, Muh. Arfan. 2015. Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Pakan Ternak Kambing Peranakan Etawa yang Diberi Pakan Silase Jerami Padi dan Daun Gamal (Gliricidia sepium). Jurusan Nutrisi dan Makan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar

[2] http://bpatp.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/teknologi-pertanian/55-teknologi-inovatif-badan-litbang-pertanian/188-probion

[3] Budiarsana, IG.M., I-K. Sutama dan Tatan Kostaman. Kajian Ekonomi Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi Sebagai Pakan Dasar Pada Ransum Kambing Peranakan Etawah Jantan Muda. Balai Penelitian Ternak Bogor, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006 – 575.

[4] Kostaman, Tatan, I.G.M. Budiarsana dan I-K. Sutama. Pengaruh Pemberian Pakan Komplit Berbasis jerami Padi Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Pubertas Kambing Jantan Peranakan Etawah. Balai Penelitian Ternak Bogor, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006.

[5] Novita C.I., A. Sudono, I.K. Sutama dan T. Toharmat. Produktivitas Kambing Peranakan Etawah yang Diberi Ransum Berbasis Jerami Padi Fermentasi. Media Peternakan, Agustus 2006, hlm. 96-106 Vol. 29 No. 2 ISSN 0126-0472.

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar