Manajemen Ternak Puyuh dari Hasil Magang

Silahkan share di:

Hambatan yang akan membuat usaha puyuh menjadi lebih sulit adalah menurunnya produktivitas puyuh. Hal ini bisa disebabkan karena berbagai hal.

Kemungkinan bisa jadi karena puyuh stress, kandang terlalu padat, ransum kurang berkualitas dan bangunan kandang tidak nyaman bagi puyuh.

Stress pada puyuh bisa disebabkan karena beberapa hal. Antara lain, perpindahan kandang, perubahan suhu lingkungan, pergantian musim, dan suara yang mengagetkan.

Kandang yang terlalu padat menyebabkan gerak puyuh tidak leluasa dan suhu dalam kandang meningkat.

Kekurangan nutrisi pada puyuh menyebabkan puyuh tidak maksimal dalam produksi telur. Nutrisi yang berlebihan juga tidak baik.

Puyuh yang terlalu gemuk akan terganggu produktivitasnya. Selain itu kelebihan protein dapat menyebabkan acidosis.

Manajemen ternak puyuh untuk pembibitan

Pada bagian ini manajemen yang diperlukan antara lain mulai dari penyiapan calon indukan dan pejantan, perkawinan sampai penetasan.

Seleksi indukan dan pejantan puyuh

Setelah kandang siap, selanjutnya adalah menyiapkan calon indukan dan pejantan.

Syarat calon pejantan dan indukan puyuh untuk pembibitan adalah sebagai berikut.

  • Pejantan dan indukan berasal dari strain puyuh dengan produktivitas tinggi.
  • Puyuh berasal dari perkawinan silang Grand Parent Stock.
  • Pejantan dan indukan berasal dari derah yang berbeda. Hal ini untuk menghindari perkawinan sedarah atau inbreeding.
  • Induk betina minimal usia 3,5 bulan sedangkan pejantan usia minimal 2,5 bulan. Calon indukan dan pejantan sudah mengalami dewasa kelamin dan dewasa tubuh.
  • Calon indukan mempunyai penampilan fisik baik, tidak memiliki cacat tubuh, terlihat sehat, lincah dan memiliki bobot tubuh yang seragam.

Bobot rata – rata untuk puyuh jantan adalah 120 gram/ekor sedangkan puyuh betina lebih besar, yaitu sekitar 140 – 150 gram/ekor.

Jumlah pakan yang harus diberikan adalah 22 gram/ekor/hari. Untuk pemberian air minum di berikan secara tidak terbatas.

Yang perlu dilakukan setiap hari adalah membuang kotoran puyuh. Membersihkan tempat pakan dan tempat minum.

Air minum diganti dengan yang baru setiap hari.

Manajemen perkawinan

Perkawinan terjadi secara alami. Jadi, dalam satu kandang terdapat indukan dan beberapa pejantan.

Perbandingan antara puyuh pejantan dan puyuh indukan adalah 1:4.

Jika dalam sebuah kandang ada 25 ekor burung puyuh, maka pejantannya 5 ekor dan puyuh betinya sebanyak 20 ekor.

Setelah telur puyuh mula di produksi, sekarang adalah manajemen tentang penetasan telurnya.

Menyeleksi telur puyuh untuk ditetaskan

Telur yang akan masuk ke dalam mesin tetas harus yang memenuhi kulitas telur yang baik.

Hal ini supaya telur puyuh yang masuk ke mesin tetas tingkat penetasannya tinggi.

Cara menyeleksi telur puyuh adalah seperti ini.

  • Kulit dari telur puyuh halus, tidak retak, warna kulit ada bintik – bintik hitam. Kalau warnanya polos jangan dipilih.
  • Bentuk telur oval, tdak bulat dan tidak terlalu lonjong.
  • Ukuran telur harus seragam. Bobot telur antara 10 – 11 gram / butir.
  • Usia simpan telur puyuh tidak lebih dari lima hari, sebelum masuk ke mesin penetasan. Jika lebih dari lima hari, tingkat penetasannya biasanya berkurang.

Perlu diperhatikan untuk mesin tetas

Mesin penetas telur puyuh harus ada termostatnya. Ini untuk mengatur suhu supaya suhu dalam mesin penetas bisa di atur untuk nilai suhu tertentu.

Suhu untuk penetasan telur puyuh adalah 38 – 38,5 0C. Kalau di mesin penetas tidak ada termometernya, bisa dicek menggunakan termometer sendiri.

Di bagian bawah rak telur, diberi air. Air bisa ditempatkan dalam sebuah wadah, nampan misalnya.

Tujuannya untuk menjaga kelembapan ruang selama penetasan.

Sebelum telur masuk, mesin harus disterilkan terlebih dahulu.

Caranya dengan menyemprotkan larutan desinfektan atau formalin.

Encerkan desinfektan dengan air. Perbandingan antara desinfektan dan air adalah 1:6.

Selama penetasan

Telur puyuh dibolak – balik sebanyak 2 – 4 kali sehari. Pembalikan telur bisa dilakukan pada pukul 7 pagi, 11 siang, 3 sore dan 7 malam.

Pembalikan telur dimulai pada hari ke-2 sampai hari ke-15 sejak telur dimasukkan ke mesin penetas.

Pastikan mesin berfungsi dengan normal. Suhu antara 38 – 38,5 0C dan kelembapan 80 – 90%.

Telur mulai menetas pada hari ke – 16. Pada hari ke 17 telur puyuh sudah menetas keseluruhan.

DOQ jangan langsung dikeluarkan dulu. Biarkan dulu dalam mesin penetas kurang lebih selama 24 jam.

Doq jantan biasanya bulunya berwarna hitam sedangkan doq betina warna bulunya coklat.

Persentasi telur menetas adalah 70% dengan perbandingan antara DOQ jantan dan betina adalah 50:50.

Manajemen puyuh starter

Kandang untuk puyuh starter bisa dibuat dengan bentuk box. Bagian dinding terbuat dari tripleks dan bagian depan dan lantai dari kawat ram.

Kandang diberi lampu pijar supaya suhu dalam kandang menjadi hangat.

Jika doq bergerombol di bawah lampu, berarti suhu kandang masih belum hangat. Atau hangatnya tidak merata, lampu perlu di tambah.

Kalau doq bergerombol di pinggir kandang, seolah olah mencari hawa segar, berarti suhu kandang terlalu panas.

Jika suhu kandang sesuai dengan kebutuhan doq, mereka tersebar secara merata dalam kandang.

Sebelum doq masuk kandang, kandang harus dibersihkan terlebih dahulu. Lantai kandang diberi alas tambahan, koran misalnya.

Hal in supaya doq tidak terperosot, makanan dan kotoran yang terjatuh dapat diserap.

Jangan lupa menyediakan tempat pakan dan tempat minum untuk doq.

Untuk kepadatan kandang, luas 1 m2 dapat ditempati doq sebanyak 100 ekor usia 1 – 10 hari.

Pemberian pakan dan minum puyuh starter

Ketika puyuh baru datang, segera diberi minum. Pemberian minum sebaiknya ditambah dengan vitamin dan antibiotik.

Obat yang bisa digunakan adalah vita tetra chlor. Ia bisa berfungsi sebagai antibiotik, sumber mineral dan vitamin.

Hal ini dilakukan supaya ketahanan doq puyuh menjadi lebih kuat.

Pakan yang diberikan adalah pakan untuk starter. Pakan starter ini mempunyai kandungan nutrisi yang lebih tinggi daripada pakan layer.

Pakan starter ini harus mempunyai kandungan nutrisi protein kasar minimal 21%.

DOQ usia 1 7 hari, pakan yang dibutuhkan adalah 2 – 4 gram/ekor/hari.

Pakan dapat diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada pagi dan sore hari.

Alas koran bisa diganti setiap 2 hari sekali. Jika sebelum 2 hari, alas koran sudah lembab atau kotor langsung saja segera diganti.

Pada hari pertama, semua ventilasi sebaiknya di tutup saja.

Baru setelah hari ke-2 sampai hari ke – 5, penutup ventilasi dibuka secara bertahap.

Pada hari ke – 6, semua penutup ventilasi bisa di buka semua.

Hari ke – 7, alas koran dapat di ambil. Jadi puyuh hanya beralaskan kawat ram saja.

Pada siang hari, jumlah lampu yang menyala dikurangi. Akan tetapi pada malam hari lampu dinyalakan semua.

Saat usia doq 10 hari, populasi dalam kandang dapat dikurangi setengahnya.

Hari 10 – 21 puyuh setiap pagi dapat dijemur untuk mendapatkan sinar matahari pagi.

Selain sebagai sumber vitamin D alami, sinar matahari juga bisa membunuh bakteri bakteri yang merugikan.

Akan tetapi perlu diperhatikan jangan sampai puyuh terdehidrasi. Tandanya adalah nafasnya yang mulai terengah – engah.

Manajemen puyuh grower

Puyuh masuk ke fase grower setelah berusia mulai 21 – 30 minggu.

Pada fase puyuh grower, seleksi mulai dilakukan. Seleksi ukuran tubuh dan seleksi jenis kelamin.

Puyuh yang ukuran tubuhnya sama, pertumbuhan seragam di kelompokkan dalam satu kandang.

Rata – rata bobot puyuh saat masuk usia grower adalah 70 – 75 gram/ekor.

Yang pertumbuhannya kerdil dipisahkan. Selain itu, pemisahan juga dilakukan untuk memisahkan puyuh jantan dan puyuh betina.

Puyuh jantan masuk ke bagian puyuh pedaging dan puyuh betina sebagai penghasil bibit dan telur.

Seleksi pertumbuhan pada fase puyuh grower terus dilakukan sampai puyuh masuk fase layer.

Kandang puyuh grower bisa disamakan dengan ukuran kandang layer. Ukuran kandang 100 cm x 60 cm x 30 cm dapat ditempati puyuh grower sebanyak 25 ekor.

Suhu dalam kandang dan lingkungan puyuh grower adalah 25 0C.

Tidak perlu lampu penerangan dalam kandang. Akan tetapi, perlu diberi penerangan supaya pada malam hari puyuh dapat beraktifitas untuk makan dan minum.

Pakan untuk puyuh grower masih sama dengan pakan untuk puyuh starter. Pemberian pakan antara 12 – 14 gram/ekor/hari.

Air minum diberikan secara tidak terbatas.

Fase grower ini cukup penting. Kebersihan dan kelembapan kandang harus dijaga.

Air minum harus ganti setiap hari.

Kotoran harus dibuang setiap hari.

Jika terjadi perubahan suhu lingkungan, puyuh sebaiknya diberikan antibiotik dan vitamin.

Manajemen puyuh layer

Setelah puyuh berusia 30 hari, maka puyuh sudah berada dalam fase layer.

Pada fase ini, puyuh sudah mulai menghasilkan telur.

Umur pertama puyuh mulai bertelur adalah antara usia 38 – 45 hari.

Puncak produksi telur saat puyuh berusia antara 4 – 6 bulan. Persentasi produksi telurnya bisa sampai 97%.

Tapi ini hanya berlangsung beberapa minggu saja. Lama waktunya sekitar 2 – 3 mingguan.

Kemudian produksi telurnya stabil dan berlangsung selama beberapa bulan. Produksi telur yang stabil rata – rata sebanyak 80%.

Setelah itu, perlahan – lahan produksi telur puyuh menurun sampai puyuh bisa diafkir. Puyuh petelur bisa diafkir setelah berusia 18 bulan, karena produksi telurnya sudah jauh dari optimal.

Pemilihan bibit dilakukan berdasarkan bentuk fisik, kesehatan dan keseragaman puyuh.

Setelah bibit selesai diseleksi, tinggal menentukan tujuan apakah telur mau ditetaskan atau mau digunakan sebagai telur puyuh konsumsi.

Jika mau ditetaskan kembali, maka manajemen pemeliharaan kembali pada bagian paling atas.

Seandainya puyuh ditujukan sebagai penghasil telur konsumsi, maka tidak perlu adanya penambahan puyuh jantan dalam kandang.

Kepadatan kandang bisa disamakan dengan kepadatan pada pemeliharaan puyuh fase grower.

Atau jika ingin mencoba tingkat kepadatan yang lain, silahkan baca artikel yang satu ini.

Kepadatan kandang dan bentuk kandang puyuh, berpengaruh!

Puyuh pada fase layer, pakannya berbeda dengan puyuh pada fase starter dan grower. Untuk mengetahui pakan puyuh fase layer, silahkan baca artikel yang ini. Di dalamnya sudah ada keterangan mengenai pakan puyuh pada fase layer.

Analisa usaha ternak puyuh 1000 ekor.

Manajemen kesehatan dan penyakit ternak puyuh

Pencegahan penyakit pada ternak puyuh tetap menjadi pilihan yang lebih baik daripada mengobati.

Kalau puyuh sudah terserang penyakit, meskipun bisa sembuh, produktivitas telurnya tidak akan sebaik seperti semula.

Untuk itu, penting kiranya untuk menjadi peternak puyuh mengetahui ciri – ciri puyuh yang sehat.

Dari gerak gerik puyuh dapat diamati bahwa puyuh yang sehat geraknya lincah dan mata terlihat bening dan cerah.

Selain itu, nafsu makannya normal. Jika nafsu makan normal, harapannya produksi telurnya juga optimal yaitu antara 75 – 80 %.

Selain dari aktivitas fisik, puyuh yang sehat dapat diamati dari kotorannya.

Kotoran puyuh yang sehat itu padat, dengan ada sedikit cairannya.

Jika kotorannya encer, maka berarti puyuh sendang mengalami masalah.

Beberapa penyakit yang mungkin bisa menyerang puyuh adalah sebagai berikut:

Snot

Penyakit snot pada puyuh biasanya terjadi pada kondisi pancaroba. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri. Hemophillus gallinarum.

Ciri – ciri puyuh yang terkena snot adalah puyuh ngantuk, ngorok, nafsu makan dan minum turun, bersin – bersin dan keluar caian dari hidung dan mata.

Tahap lebih lanjut, hidung, mata dan pipi puyuh akan bengkak.

Penyakit ini bisa dicegah dengan pemberian pakan yang berkualitas dan memadai.

Selain itu pemberian vitamin dan antibiotik juga diperlukan.

Kondisi kandang harus selalu bersih dan tidak lembap dan jangan terlalu padat.

Kotoran puyuh harus dibersihkan setiap hari.

Jika puyuh sudah terkena snot, pisahkan dari kawanannya dan letakkan dalam kandang tersendiri atau kandang karantina.

Kemudian puyuh tersebut di obati. Obat snot sudah banyak yang beredar di pasaran.

Tetelo atau ND

Tetelo ini disebabkan oleh virus dan menyerang saluran pernafasan puyuh.

Tanda puyuh yang terserang ND adalah puyuh susah bernafas, ngorok, lesu, sayap turun, ngantuk, jalan mundur kepada di bawah sambil muter – muter.

Belum ada obatnya my men, untuk penyakit yang satu ini.

Hanya pencegahan dan vaksinasi dini harus dilakukan untuk menghindari ini.

Berak putih (Pullorum)

Tanda tanda utama burung puyuh terkena berak putih adalah kotorannya berwarna putih.

Penangannya dengan meberikan antibiotik yang ada bahan trimetroprim dan sulfadiazine.

Bisa di baca di ingridientsnya.

Radang usus (Quail enteritis)

Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.

Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berk yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.

Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.

Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.

Berak darah (Coccidiosis)

Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.

Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.

Cacar Unggas (Fowl Pox)

Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.

Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.

Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfeksi.

Quail Bronchitis

Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.

Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersin, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.

Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.

Aspergillosis

Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.

Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.

Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.

Cacingan

Penyebab: sanitasi yang buruk.

Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.

Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang

terjaga kebersihannya.

Referensi

Istiamuji, Nurul. 2011. Optimalisasi Produksi pada Peternakan Puyuh Bintang Tiga, Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Departemen Agribisnis Fak. Ekonomi dan Manajemen IPB Bogor.

Saputro, Very Tria. 2011. Manajemen Pemeliharaan Burung Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica) Di Peternakan Agri Bird Jaten Karanganyar. PS DIII Agribisnis Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Gabriele berkata:

    Thank you very much!

  2. joyo sulistyo berkata:

    your welcome

Tinggalkan komentar