Cara Fermentasi Dedak Padi Menggunakan Ragi Tape

Silahkan share di:

 

Perbedaan antara dedak dan bekatul

Istilah katul, dedak dan bekatul adalah istilah yang hampir sama untuk produk sampingan penggilingan padi.

Akan tetapi, sebenarnya ketiganya memilki sedikit perbedaan. Perbedaannya adalah sebagai berikut:

Secara kasat mata perbedaannya adalah:

Dedak padi adalah hasil samping penggilingan padi pertama, sedangkan bekatul hasil penggilingan padi ke dua.

Dedak padi teksturnya lebih kasar sedangkan bekatul lebih halus.

Warna dedak padi lebih coklat daripada bekatul.

Bekatul lebih padat daripada dedak padi, jika di masukkan ke dalam air, akan tenggelam semua.

Sedangkan dedak padi tidak. Ada sebagian yang masih mengapung jika dedak padi dimasukkan ke dalam air.

Secara kualitas, perbedaan antara dedak padi dan bekatul adalah sebagai berikut:

Kandungan nutrisi dedak padi lebih rendah daripada bekatul.

Selain itu, dedak padi memiliki serat kasar yang lebih tinggi.

Nilai serat kasar dari dedak padi sekitar 12%, sedangkan bekatul nilainya sekitar 3%.

Oleh karena itu dedak padi sebenarnya lebih cocok untuk digunakan sebagai pakan hewan ruminansia, seperti kambing, domba atau sapi.

Sedangkan bekatul lebih cocok untuk pakan hewan unggas, ayam dan bebek.

Untuk selanjutnya dalam artikel ini, saya tidak membedakan antara bekatul dan dedak padi.

Karena faktanya di lapangan penggilingan padi yang membedakan hasil antara dedak dan bekatul sangat sedikit.

Kandungan nutrisi dedak padi

Dari beberapa publikasi penelitian, nilai kandungan nutrisi dedak padi agak sedikit berbeda – beda.

Alasannya mungkin karena itu tadi, istilah bekatul dan dedak padi tidak terlalu dibedakan.

Jadi, saya akan sampaikan apa adanya.

Tabel kandungan nutris dedak padi [1]

Kandungan nutrisi

Jumlah (%)

Energi metabolis (ME)2100 kkal/kg
Protein Kasar (PK)12,9
Lemak kasar (LK)13
Serat kasar (SK)11,4
Kalsium (Ca)0,07
Fosfor (P)1,5 (0,21 % tidak terikat fitat)

Kandungan nutrisi dedak padi[2]

Kandungan Nutrisi

Jumlah

Kadar Air10,61
Protein9,96
Lemak5,96
BETN37,32
Serat Kasar30,39

 

Kandungan nutrisi dedak padi [3]

Kandungan NutrisiJumlah (% berat kering)
Bahan Kering92,68
Bahan Organik85,01
Protein Kasar9,55
Serat Kasar23,55
Energi Gross3563 kkal/kg

Sebenarnya, kandungan nutrisi dari dedak padi sudah diberikan patokan standar. Sebagai acuan saja, syarat mutu kandungan nutrisi dedak padi menurut SNI 01.3178-1996[4] adalah sebagai berikut.

Komposisi (%)Kualitas 1Kualitas 2Kualitas 3
Air (maks.)

12

12

12

Protein Kasar (min.)

11

10

8

Serat Kasar (maks.)

11

14

16

Abu (maks)

11

13

15

Lemak (maks)

15

20

20

Ca

0,04 – 0,3

0,04 – 0,3

0,04 – 0,3

P

0,6 – 1,6

0,6 – 1,6

0,6 – 1,6

Aflatoksin (ppb) maks

50

50

50

Silica (maks)

2

3

4

 

Anti Nutrisi dedak padi

Penggunaan dedak padi dalam pakan unggas, terutama ayam tidak boleh banyak – banyak.

Jumlahnya antara 20 – 30 %. Kalau lebih dari itu, bisa menurunkan performa ternak.

Itupun, dedak padi harus di lakukan rekayasa biologi terlebih dahulu. Rekayasa biologi misalnya adalah di fermentasi terlebih dahulu.

Kenapa harus dilakukan fermentasi?

Dedak padi mengandung serat kasar yang tinggi. Selain serat kasarnya tinggi, ia juga terdapat zat anti nutrisi.

Zat anti nutrisi pada dedak padi adalah asam fitat.

Asam fitat ini dapat mengikat mineral kalsium dan fosfat. Padahal, mineral tersebut sangat diperlukan oleh ternak.

Selain mengikat mineral tersebut, asam fitat juga bisa mengikat protein. Sehingga kalau mineral dan protein terikat oleh asam fitat, kecernaan ransum pasti akan menjadi berkurang.

Tidak hanya itu, nutrisi dari bahan pakan juga tidak terserap sempurna oleh ternak.

Fosfor yang terdapat pada dedak padi, sebanyak 80% nya terikat oleh asam fitat ini.

Padahal, asam fitat ini sangat sulit dicerna.

Supaya dedak padi lebih mudah di cerna, maka asam fitat ini harus diurai. Yang bisa mengurainya adalah enzim fitase.

Enzim ini bisa dihasilkan oleh bakteri tertentu. Salah satu bakterinya adalah Trichoderma viride.

Jadi, bakteri ini baik jika digunakan sebagai starter fermentasi.

Selain bakteri tersebut, bakteri lain yang bisa menghasilkan enzim fitase adalah aspergillus ficuum.

Starter fermentasi tidak harus bisa menghasilkan enzim fitase.

Fungsi lain dari fermentasi adalah mengurai zat yang rumit menjadi zat yang lebih sederhana.

Misalnya protein diurai menjadi asam – asam amino dan karbohidrat diurai menjadi struktur molekul gula yang lebih sederhana.

Kalau strukturnya lebih sederhana, maka ia akan lebih mudah untuk dicerna.

Cara fermentasi dedak padi

Pada bagian ini saya akan menjabarkan tentang cara membuat fermentasi dedak padi dengan beberapa starter bakteri yang berbeda.

Pertama kali yang akan saya uraikan adalah pengalaman saya sendiri dalam membuat fermentasi dedak padi.

1 . Fermentasi dedak padi dengan ragi tape

Cara ini adalah yang pernah saya lakukan. Berikut langkah – langkahnya.

Siapkan bahan – bahannya, yaitu:

Dedak padi (jumlah sesuai selera).

Bakteri starter aspergilus niger. Kalau kesulitan mendapatkan aspergilus niger, dapat diganti dengan ragi tape. Perbandingannya dedak padi 1 kg : ragi tape 2 butir.

Air bersih dan baki berpenutup atau plastik bag yang cukup besar.

Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut:

Basahi dedak padi dengan air, perbandingannya 3:1 atau kira-kira sampai dedak padi menjadi pero.

Tandanya adalah jika dikepal tidak meneteskan air, kalau dilepas gumpalan dedak padi tidak hancur.

Kemudian kukus dedak padi tersebut selama 15 atau 30 menit. Dinginkan, sampai benar – benar dingin, lalu campurkan dengan ragi tape sampai merata.

Ragi tapenya di haluskan terlebih dahulu. Kalau ragi dicampurkan dalam kondisi dedak padi masih panas, bisa membunuh bakteri starternya.

Masukkan dedak padi kedalam wadah atau kantong plastik tertutup rapat selama 3 hari.

Setelah tiga hari buka dedak padi tersebut. Sebelum diberikan, diangin-anginkan terlebih dahulu, atau dikeringkan untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Dengan cara ini, saya tidak bisa memberikan data – data ilmiah mengenai berapa kandungan nutrisi dedak padi setelah difermentasi.

Akan tetapi ada satu hal yang menjadi perhatian saya waktu itu.

Setelah fermentasi selesai, kemudian dedak padi fermentasi saya keringkan dengan dijemur matahari.

Setelah kering, ternyata tekstur dedak padi menjadi lebih lunak. Kalau diremas, hasilnya akan menjadi dedak padi yang halus.

Berbeda saat dedak padi belum difermentasi, ketika diperas dengan tangan masih terasa ada kasar – kasarnya di tangan.

2 . Fermentasi dedak padi dengan ragi tape[3]

Ragi tape yang digunakan adalah ragi tape untuk membuat tape singkong. Ragi jenis ini sangat mudah sekali ditemui di pasaran.

Tujuan dari fermentasi dengan ragi tape ini adalah untuk mengetahui perubahan kandungan protein kasar dan serat kasar dari dedak padi setelah di fermentas.

Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut:

Sediakan sejumlah dedak padi, misalnya sebanyak 100 gram.

Kemudian campur dedak padi dengan air panas sebanyak 10 ml. Aduk sampai rata.

Setelah tercampur dengan merata, dinginkan sampai benar – benar dingin.

Setelah itu, tambahkan ragi tape dan dicampur sampai merata.

Kemudian wadahi dan tutup rapat selama semalam atau sekitar 12 jam.

Berapa jumlah raginya?

Untuk mengetahui jumlah terbaik dari ragi, peneliti melakukan variasi terhadap jumlah raginya.

Variasi jumlahnya adalah 2%, 4%, 6% dan 8%.

Jadi, kalau dedak padinya 100 gram, maka jumlah ragi tapenya berturut – turut adalah sebanyak 2 gram, 4 gram, 6 gram dan 8 gram.

Bagaimana hasilnya?

Hasil dari riset ini hanya menitikberatkan pada kandungan protein kasar dan serat kasar.

Secara sederhana, hasilnya akan saya berikan pada tabel di bawah ini:

Nutrisi

Dedak padi tidak difermentasi

Dedak padi difermentasi dengan ragi tape

2 gram

4 gram

6 gram

8 gram

Protein Kasar9,55%10,5611,0512,1215,17
Serat Kasar13,60%16,0416,7117,3918,61

Nilai dari kandungan nutrisi di atas adalah dalam persen berat kering.

Saya akan sedikit berkomentar dengan riset yang dilakukan oleh mahasiswa pada tahun 2011 ini.

Pertama. Dari sekian banyak jurnal publikasi yang pernah saya baca, sangat jarang yang melakukan pemeraman fermentasi hanya semalam.

Kedua. Nilai protein kasarnya, bertambahnya terlalu banyak.

Ketiga. Setelah difermentasi nilai serat kasarnya malah bertambah besar. Ini tidak memberikan nilai yang lebih baik.

Kenaikan serat kasar ini bisa dijelaskan pada bagian fermentasi dedak padi dengan em-4 di bawah ini.

Langsung saja kita ke penelitian selanjutnya. Masih mengenai fermentasi dedak padi.

3 . Fermentasi dedak padi dengan EM-4[2]

Kali ini penelitian dilakukan oleh akademisi dari salah satu universitas negeri Makassar.

Risetnya tentang fermentasi dedak padi dengan starter EM-4. Lepas itu, hasil terbaik dari fermentasi tersebut digunakan untuk penelitian selanjutnya.

Penelitian lanjutannya adalah menggunakan dedak padi terfermentasi terbaik, sebagai pakan ayam buras.

Tapi kali ini saya hanya fokus pada fermentasi dan hasilnya saja.

Langsung saja. Langkah – langkah fermentasi dedak padi dengan em-4 adalah sebagai berikut.

Pertama – tama, kita aktifkan terlebih dahulu EM-4 nya. Caranya, 10 ml EM-4 + 10 ml tetes tebu + 1 liter air bersih.

Kalau tetes tebu tidak punya, bisa diganti dengan 1 sendok makan gula pasir.

Campur dan aduk ketiganya sampai terlarut. Setelah itu, diamkan selama 12 jam. Supaya bakteri dalam EM-4 sudah aktif dan siap digunakan.

EM-4 yang sudah aktif kemudian disemprotkan ke dedak padi sampai merata.

Dedak padi kemudian disimpan dalam wadah yang tertutup rapat selama 3, 5 atau 7 hari.

Hasilnya?

Secara singkat hasilnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Zat Nutrisi

Dedak padi tidak difermentasiDedak padi fermentasi dengan EM-4

3 hari

5 hari

7 hari

Air

10,61

13.91

15.59

16.74

Protein

9,96

10

10,24

10,36

Lemak

5,96

5,75

6,45

6,82

BETN

37,32

33,85

32,57

32,75

Serat Kasar

30,39

33,46

33,54

32,72

Bisa dilihat pada tabel di atas. Nilai kandungan protein kasarnya semakin meningkat.

Tetapi peningkatannya tidak yang sangat drastis. Hanya sedikit saja bertambahnya. Peningkatan ini dikarenakan jumlah bakteri yang jumlahnya semakin banyak.

Sedangkan serat kasarnya, semakin meningkat.

Menurut peneliti, kenaikan serat kasar ini bukan dedak padi kualitasnya semakin jelek.

Akan tetapi karena mikroba yang berkembang ternyata menghasilkan serat kasar lain diluar serat kasar dari dedak padi.

Selanjutnya kita akan lihat cara fermentasi dedak padi oleh penelitian lainnya. Kali ini starternya berbeda.

4 . Fermentasi dedak padi dengan aspergillus ficuum

Mikroba yang satu ini cukup sulit ditemui di pasaran. Berbeda dengan aspergillus niger yang sudah banyak menjualnya secara online.

Sepertinya, ketersediaannya terbatas dan hanya di kalangan akademik yang memilikinya. Misalnya di laborat biologi perguruan – perguruan tinggi.

Padahal, pengaruh fermentasi dedak padi dengan mikroba ini hasilnya lumayan bagus.

Nanti akan kita lihat perubahan kandungan nutrisi dedak padi setelah difermentasi dengan mikroba yang satu ini.

Sekarang kita lihat langkah – langkah untuk fermentasi dedak padi dengan mikroba ini.

Dedak padi ditambah dengan air sebanyak 50% . Kemudian di aduk sampai tercampur merata.

Setelah itu, dedak padi dikukus selama 45 menit. 45 menit ini dihitung sejak air mulai mendidih.

Selesai di kukus, dedak padi didinginkan.

Setelah dingin, dedak padi ditambah dengan inokulum aspergillus ficuum sebanyak 0,5 %.

Inokulum aspergillus ficuum maksudnya adalah starter sudah dalam kondisi aktif dan bakteri siap digunakan.

Kalau dedak padinya 1 kg, maka mikrobanya sebanyak 5 gram. Dedak padi 2 kg, mikrobanya 10 gram dan seterusnya.

Fermentasi dedak padi dengan mikroba ini berlangsung secara aerob.

Jadi, setelah dedak padi dicampur dengan starter, dedak ditempatkan dalam plastik yang dilubangi.

Lebih efisien kalau dedaknya dibuat tipis mendatar dengan ketebalan sekitar 2 cm.

Lama fermentasi adalah 3 hari pada suhu ruang.

Setelah fermentasi selesai, dedak padi dikeringkan pada suhu 50 derajat Celcius selama 24 jam.

Lepas itu, digiling dan digunakan sebagai pakan.

Hasil setelah fermentasi

Setelah difermentasi dengan mikroba aspergillus ficuum, dedak padi mengalami perubahan kandungan nutrisi yang cukup lumayan.

Secara singkat hasilnya akan saya berikan pada tabel di bawah ini.

NutrisiSebelumSetelah
Energi Metabolis (kkal/kg)

2470

2338

Proten Kasar %

12,65

15,18

Serat Kasar

9,17

12,23

Lemak Kasar

16,32

12,69

BETN

38,91

38,22

Abu

11,08

12,34

Kalsium

0,07

0,16

Fosfor2,242,47

 

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa fermentasi dedak padi dengan aspergillun ficuum dapat memberikan perubahan pada kandungan nutrisi.

Protein kasarnya naik. Kenaikan protein ini sebagian besar karena jumlah mikroba itu sendiri.

Lemak kasar turun. Ini karena selama berkembang, mikroba butuh ikatan karbohidrat. Karbo ini diambil dari lemak dan serat kasar.

Serat kasarnya naik. Kenaikan serat kasar ini karena adanya senyawa ikatan karbon pada dinding sel mikroba.

Jadi, serat kasar ini bukan berasal dari dedak padinya melainkan serat kasar tambahan dari mikroba aspergillus ficuum itu sendiri.

5 . Fermentasi dedak padi dengan Saccharomyces spp[5]

Cara fermentasi yang satu ini sama dengan cara di atas. Yaitu pada ferementasi dengan aspergillus ficuum.

Hanya saja, mikroba aspergillus ficuumnya diganti dengan Saccharomyces spp.

Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut:

Dedak padi dikukus selama 45 menit. Lama waktu dihitung sejak air kukusan mendidih, kemudian didinginkan.

Setelah dingin, selanjutnya ditambahkan kultur Saccharomyces spp terpilih sebanyak 0,20% dari berat dedak padi yang akan difermentasi.

Setelah itu disemprot dengan larutan gula 4% sambil diaduk secara merata.

Selanjutnya dedak padi tersebut dimasukkan kedalam kantung polyetilene(kantong plastik) yang telah dilubangi dibeberapa tempat.

Tujuannya untuk mendapatkan kondisi aerob, selanjutnya diinkubasi pada suhu ruang selama 3 hari, selama inkubasi substrat dikondisikan pada ketebalan 2 cm.

Setelah masa inkubasi selesai, produk dikeringkan selama 24 jam pada suhu kamar, setelah kering kemudian digemburkan kembali dan siap dicam­purkan dengan bahan pakan lainnya.

Hasil

Hasil fermentasi pada bagian ini tidak berbeda jauh dengan cara di atas. Hanya saja nilai proteinnya lebih kecil daripada metode yang menggunakan aspergillus ficuum.

Hasilnya secara singkat bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

VariableSebelumSetelah
Bahan Kering (%)

88,97

88,62

Bahan Organik (%)

89,85

90,39

Protein Kasar (%)

10,93

13,01

Serat Kasar (%)

15,07

17,15

Gross Energi (kkal/kg)

3275,37

3312,05

 

Referensi

[1] Siti Wahyuni H.S. 1995. Biokonversi Dedak Padi Oleh Kapang Aspergillus Ficuum Sebagai upaya menurunkan kadar fitat dan pengaruhnya terhadap kinerja ayam petelur. Program Pasca Sarjana IPB Bogor.

[2] Muhamad Nur Hidayat, Amriana Hifizah, Khaerani Kiramang, Astati. REKAYASA KOMPOSISI KIMIA DEDAK PADI DAN APLIKASINYA SEBAGAI RANSUM AYAM BURAS.Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Alaudin, Makassar.

[3] Pratiwi, widayati dkk. 2011. Program Kreatifitas Mahasiswa. Fermentasi Tepung Dedak Menggunakan Ragi Tape Saccharomyces cerevisiae untuk Meningkatkan Nutrisi Pakan Ikan. IPB. Bogor.

[4] Irianingrum, Retno. 2009. Kandungan Asam Fitat dan Kualitas Dedak Padi yang Disimpan dalam Keadaan Anaerob. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB Bogor.

[5] Wibawa A.A.P., Wirawan I W., dan Partama I.B.G. Peningkatan Nilai Nutrisi Dedak Padi Sebagai Pakan Itik Melalui Biofermentasi dengan Khamir. MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN Volume 18 Nomor 1 Tahun 2015.

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar