Cara Membuat Pakan Kambing Dari Batang/Gedebog Pisang

Silahkan share di:
Batang/Gedebog pisang merupakan limbah yang pemanfaatannya kurang maksimal. Sebagian besar batang/pisang hanya dipotong-potong dan dibiarkan membusuk.

Pemanfaatannya masih sangat minimal, paling hanya digunakan sebagai penancap pada pertunjukan wayang kulit, sebagai kembang mayang pada upacara pernikahan, bendungan pinggiran sungai supaya air tidak meluap, untuk dibuat kapal-kapalan oleh anak-anak, pembungkus karbit pada pengimbuan buah-buahan, dan lain-lain.

Bagaimana kalau batang/gedebog pisang digunakan sebagai pakan ternak?

Untuk pakan kambing atau domba misalnya.

Secara teori bisa, karena batang/gedebog pisang kalau dilihat memiliki kandungan nutrisi yang biasa-biasa saja, standard lah.

Artinya nutrisinya ada meskipun sedikit, beracun juga tidak.

Jadi, secara teori bisa digunakan sebagai pakan kambing atau domba.

Persoalannya kalau sudah di kandang mungkin berbeda dengan di laborat. Kambing atau dombanya mau nggak makan gedebog/batang pisang, kalaupun mau baik ndak untuk kesehatan dan pertumbuhan kambing dan dombanya.

silase-batang-pisang-untuk-pakan-kambing-domba
https://pixabay.com/en/banana-tree-nature-green-260760/

 

Penelitian gedebog pisang

Pada postingan kali ini saya akan membahas teori tentang pemanfaatan limbah batang/gedebog pisang untuk dijadikan pakan kambing dan domba.

Sama seperti postingan saya sebelumnya, batang pisang untuk kambing, domba atau sapi, ada  juga penelitian yang membahas tentang pemanfaatan batang/gedebog pisang untuk dijadikan pakan kambing atau domba.

Diakhir penelitiannya penulis juga menyarankan perlu penelitian lebih lanjut mengenai pemberian pakan ini ke hewan ternak. Artinya penelitian terhadap kambing atau domba sebagai objek yang diberi makan ransum gedebog/pisang.

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa salah satu universitas di Makassar, nanti di akhir saya cantumkan sumber referensinya.

Dia meneliti tentang batang/gedebog pisang yang digunakan sebagai bahan utama ransum. Dalam pembuatan ransum ini dengan cara disilase.

Dan peneliti juga mencari berapa komposisi terbaik dari batang/gedebog pisang apabila digunakan sebagai bahan ransum pakan ternak kambing dan domba.

Dalam penggunaannya sebagai ransum pakan kambing dan domba, batang/gedebog pisang ini harus ditambahkan bahan-bahan lain.

Bahan tambahan dapat berupa jagung, dedak padi, dan molases.


Untuk bahan tambahan dalam penelitian ini nanti saya ada diparagraf selanjutnya. Penambahan ini supaya kualitas ransum menjadi lebih baik. Mengingat gedebog/batang pisang memiliki banyak kekurangan dalam kualitas ransumnya.

Kandungan airnya yang tinggi, serat kasarnya yang sulit dicerna, karbohidrat yang sulit terlarut, protein kasar yang rendah dan mudah busuk tentunya.

Batang/gedebog pisang mempunyai kandungan nutrisi bahan kering (BK) 7,5%, protein kasar(PK) 5,9%, serat kasar(SK) 26,6% dan lemak kasar(LK) 2,2%.

Tepung bonggol pisang mengandung pati (karbohidrat) sebesar 66,2%, serat kasar 10,23%, protein 5,88%, dan lignin 33,51%.

Kandungan lignin pada batang pisang ini tinggi, jadi hal ini bisa berpengaruh terhadap kinerja mikroba dalam mencerna makanan.

Bagaimana penelitian ini dilakukan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah kandungan protein kasar dan serat kasar dari ransum pakan kambing dan domba yang bahan utamanya adalah gedebog pisang.

Bahan-bahan tambahan yang digunakan sebagai bahan ransum adalah dedak padi, tepung jagung, tepung kepala udang, molases, urea dan mineral mix.

Jumlah komposisi dari masing-masing bahan tersebut ada di tabel di bawah:

Bahan Ransum
Komposisi %
Batang Pisang
50
Dedak Padi
25
Tepung Jagung
2,5
Kepala Udang
5
Molases
5
Urea
1,5
Mineral Mix
1
Jumlah
100%

 

Dengan komposisi ransum seperti diatas, diperoleh ransum dengan protein kasar sebesar 11,21 ± 1,38 % dan serat kasar (SK) 20,91 ± 2,10 %.

Angka setelah tanda ± menunjukkan tingkat kesalahan dalam pengukuran. Jadi nilai protein kasarnya bisa 11,21 + 1,38 = 12,59 % atau 11,21 – 1,38 = 9,83 %.

Memang seperti itu aturannya. Untuk yang lemak kasarnya bisa dihitung sendiri ya.

Ransum yang dipersiapkan ada empat ransum dengan komposisinya sama seperti di atas.

Ransum yang pertama (P0) tidak disilase.

Ransum yang kedua (P1) disilase dengan lama waktu pemeraman 7 hari, ransum ketiga (P2) disilase dengan lama waktu pemeraman 14 hari, dan ransum keempat (P3) waktu pemeramannya 21 hari.

Batang/gedebog pisang dipotong kecil-kecil sekitar 2-5 cm. Setelah itu gedebog pisang dijemur dengan sinar matahari selama 3-7 hari.

Akan tetapi tidak disebutkan berapa jumlah kadar air akhir daari gedebog pisangnya. Batang pisang yang sudah dilayukan dicampur dengan bahan-bahan tambahan.

Pencampurannya dilakukan dengan cara bertahap.

Batang pisang dicampur dengan dedak padi terlebih dahulu dicampur diaduk sampai merata, baru kemudian dicampur dengan tepung jagung.

Begitu seterusnya sampai semua bahan tercampur dengan homogen atau merata.

Campuran tadi dimasukkan dalam kantong plastik dipadatkan dan ditutup rapat, disimpan dalam keadaan tanpa oksigen dan diletakkan ditempat yang teduh.

Lama waktu pemeraman sebagaimana yang saya jelaskan pada paragraf di atas, ada ransum yang tidak diperam, diperam 7 hari, 14 hari dan 21 hari.

Pengujian hasil untuk nilai protein kasar dan serat kasar ransum yang disilase dilakukan di laboratorium.

Prosedur pengujiaannya sangat akademik dan teoritis. Untuk saat ini saya belum bersemangat membahas metode ini, jadi lain waktu saja ya….heheheh

Hasilnya

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini hanya informasi megenai kandungan protein kasar dan serat kasar dari masing – masing ransum. Karena memang itu tujuan dari peneliti.

Jadi informasi apakah ransum ini disukai kambing alias palatabilitasnya bagus dan efeknya terhadap kenaikan daging kambing tidak tersedia.


Ringkasan Protein Kasar dan Serat kasar:

Ransum 1 (P0) Protein Kasar (Pk) 11,21 ± 1,38 %  dan Serat Kasar (SK) 20,91 ± 2,10 %.

Ransum 2 (P1) Protein Kasar (Pk) 9,95 ± 0,58 %  dan Serat Kasar (SK) 21,52 ± 1,35 %.

Ransum 3 (P2) Protein Kasar (Pk) 10,57± 0,71 %  dan Serat Kasar (SK) 13,93 ± 0,95 %.

Ransum 4 (P3) Protein Kasar (Pk) 11,01± 0,28 %  dan Serat Kasar (SK) 14,68 ± 1,41 %.

Kalau dilihat pada hasil tersebut, jumlah kandungan protein kasar ransum menurun pada minggu pertama yaitu nilainya ada di ransum 2.

Kemudian nilai PK nya naik sedikit pada minggu kedua yang ditunjukkan oleh ransum 3.

Hingga akhirnya nilai PK pada minggu ke tiga, yaitu ransum 4 nilainya hampir sama dengan nilai protein kasar awal ransum yang tidak disilase atau diperam.

Pada ransum 2, nilai protein kasarnya menurun, karena pada fase minggu pertama 7 hari, bakteri clostridia (bakteri merugikan) masih bekerja.

Bakteri tersebut mengubah asam amino menjadi amonia sehingga kandungan protein kasarnya menurun.

Pada minggu ke 2 (ransum 3) dan minggu ke3 (ransum4) jumlah bakteri asam laktat mulai bertambah sehingga kandungan asam yang dihasilkan dapat menekan aktifitas bakteri clostridia.

Hal ini secara tidak langsung meningkatkan jumlah kandungan protein ransum karena bakteri asam laktat itu sendiri merupakan protein sel tungggal.

Semakin banyak jumlah bakteri asam laktat semakin bertambah nilai protein kasar ransum.

Untuk serat kasarnya, nilainya semakin menurun. Nilai serat kasar ransum batang pisang menurun drastis pada minggu ke dua 14 hari (ransum 3).

Penjelasannya sama.

Bakteri asam laktat yang ada di ransum mulai berkembang dan memecah ikatan serat kasar pada ransum.

Pemecahan ikatan serat kasar ini digunakan oleh bakteri untuk berkembang sehingga jumlah populasi bakteri asam laktat semakin banyak.

Jumlah bakteri yang semakin banyak akan semakin mempercepat proses penurunan serat kasar ransum. Tetapi ,perkembangan bakteri tidak berarti akan semakin bertambah secara terus menerus.

Ada fase dimana jumlah bakteri asam laktat dalam ransum batang pisang akan mentok, atau disebut stasioner. Jumlah bakteri tidak akan bertambah lagi.

Jadi kalau ada pendapat yang mengatakan dengan fermentasi dapat meningkatkan kandungan protein suatu ransum dengan peningkatan yang berlipat ganda itu tidak bisa dipercaya.

Fermentasi dan silase fungsinya adalah memperbaiki kualitas ransum dengan menurunkan serat kasar dan meningkatkan kecernaan ransum.

Itupun kalau waktu pemeraman selama proses silase terlalu lama, malah akan menurunkan kualitas ransum.

Sebagai penutup, peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya pengujian ransum secara in vivo.

Hahha…in vivo ini maksudnya bukan meerk smartphone melainkan ransum diujikan langsung ke hewan ternak (kambing/domba) dan diamati hasil dan perkembangan ternaknnya.

Sumber:

Indah, A.S..2016.Kandungan Protein Kasar dan Serat KasarSilase Pakan Lengkap Berbahan Utama Batang Pisang (Musa Paradisiaca) dengan Lama Inkubasi yang Berbeda.Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar.

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar